Apa arti sertifikasi sebenarnya dan kapan ia layak dibayar
Sertifikat menjamur di hampir setiap bidang, dari yang diakui industri hingga yang sekadar bukti menonton video. Membedakannya menentukan apakah uang dan waktu terbuang.

Daftar riwayat hidup pekerja muda kini sering dipenuhi sertifikat: kursus daring, pelatihan singkat, uji kompetensi, lisensi profesi. Sebagian darinya benar-benar membuka pintu. Sebagian lain hanya menandakan bahwa seseorang pernah menyelesaikan serangkaian video. Masalahnya, dari luar keduanya tampak sama, dan perekrut yang berpengalaman sudah belajar membedakannya.
Memahami apa yang sebenarnya diukur oleh sebuah sertifikasi membantu memutuskan mana yang layak dibayar dengan waktu dan uang, dan mana yang sebaiknya dilewati.
Baca juga: Kontrak kerja lepas: klausul yang melindungi freelancer dari klien bermasalah
Tiga jenis yang berbeda nilainya
Jenis pertama adalah sertifikasi yang menjadi syarat untuk menjalankan profesi tertentu, misalnya di bidang kesehatan, keuangan, konstruksi, atau keselamatan kerja. Tanpa sertifikasi ini, seseorang tidak bisa bekerja secara sah di posisi tersebut, sehingga nilainya tidak perlu diperdebatkan. Yang perlu diperiksa hanyalah lembaga mana yang diakui dan bagaimana prosedurnya.
Jenis kedua adalah sertifikasi yang diakui industri sebagai bukti kompetensi, meski tidak diwajibkan. Biasanya ia melibatkan ujian yang sulit, diselenggarakan oleh lembaga yang dipercaya pelaku industri, dan namanya muncul berulang di lowongan kerja. Nilainya nyata, terutama bagi pelamar yang belum punya pengalaman panjang, karena ia menggantikan sebagian bukti yang belum bisa ditunjukkan lewat rekam jejak.
Jenis ketiga adalah sertifikat penyelesaian: bukti bahwa seseorang mengikuti kursus sampai akhir. Kursusnya bisa sangat bagus dan ilmunya bisa sangat berguna, tetapi sertifikatnya sendiri hampir tidak bernilai di mata perekrut, karena tidak ada ujian yang menyaring. Nilai sebenarnya ada pada apa yang bisa dikerjakan setelahnya, bukan pada lembar sertifikatnya.
Cara memeriksa sebelum membayar
Cara paling cepat untuk menilai sebuah sertifikasi adalah mencari namanya di lowongan pekerjaan untuk posisi yang diincar. Jika ia disebut sebagai syarat atau nilai tambah di banyak lowongan, ia layak dipertimbangkan. Jika tidak pernah muncul, besar kemungkinan ia hanya dikenal oleh penyelenggaranya sendiri.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah ada ujian yang bisa gagal. Sertifikasi yang semua pesertanya pasti lulus tidak menyaring apa-apa, dan perekrut mengetahuinya. Sebaliknya, ujian yang sulit dan tingkat kelulusannya terbatas membuat sertifikatnya berbicara.
Perhatikan juga masa berlaku dan biaya perpanjangan. Beberapa sertifikasi menuntut pembaruan berkala dengan biaya yang tidak kecil, dan ini perlu dihitung sebagai biaya berkelanjutan, bukan sekali bayar.
Sertifikat tidak menggantikan bukti kerja
Pada akhirnya, sertifikasi paling berguna ketika mendampingi bukti kerja nyata, bukan menggantikannya. Pelamar dengan satu sertifikasi yang diakui dan dua proyek yang bisa ditunjukkan hampir selalu lebih kuat daripada pelamar dengan sepuluh sertifikat penyelesaian dan tidak ada hasil kerja. Perekrut membaca sertifikat sebagai petunjuk, lalu mencari buktinya di tempat lain.
Jadi, sebelum membayar sebuah program sertifikasi, tanyakan dua hal: apakah industri yang dituju benar-benar mengenalnya, dan apakah setelah selesai saya bisa mengerjakan sesuatu yang sebelumnya tidak bisa. Jika jawaban keduanya ya, ia layak. Jika hanya salah satu, pikirkan lagi. Jika tidak keduanya, uangnya lebih baik dipakai untuk hal lain.